MAKALAH FILOSIFI PENDIDIKAN
Landasan Psikologi Pendidikan : Perkembangan Anak
Oleh :
Ririn Anggraini (1888203071)
Ririn Fildasari (18882030075)
Dosen Pengampu :
Mustakim JM., M.Pd
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Lancang Kuning
2018
Kata Pengantar
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat, taufik serta hidayah-Nya yang sangat besar sehingga saya pada akhirnya bisa menyelesaikan makalah landasan psikologi pendidikan ini
Rasa terima kasih juga kami ucapkan kepada Guru Pembimbing yang selalu memberikan dukungan serta bimbingannya sehingga makalah ini dapat disusun dengan baik.
Semoga makalah yang telah kami susun ini turut memperkaya khazanah ilmu tentang filosofi pendidikan serta bisa menambah pengetahuan dan pengalaman para pembaca.
Selayaknya kalimat yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna. Kami juga menyadari bahwa makalah ini juga masih memiliki banyak kekurangan. Maka dari itu kami mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca sekalian demi penyusunan makalah ini.
DAFTAR ISI
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN PENULISAN
2.3 BENTUK PSIKOLOGIS PENDIDIKAN…………………………………………………………………….8
2.4 KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM PROSES
BELAJAR……………………..13
2.5 IMPLEMENTASI PERKEMBANGAN
INDIVIDU TERHADAP PERLAKUAN ANAK…….20
BAB.III………………………………………………………….…………………………………………………………….22
PENUTUP……………………………………………………………………………………………………………………22
3.1 KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………………….22
3.2
SARAN……………………………………………………………………………………………………………….22
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………………….23
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Psikologi
pendidikan adalah studi tentang bagaimana manusia belajar dalam setting
pendidikan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan
psikologi sosial sekolah sebagai organisasi. Psikologi
pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang, sering
fokus pada subkelompok seperti anak-anak berbakat dan mereka tunduk pada cacat
tertentu. Peneliti dan
ahli teori yang cenderung diidentifikasi di Amerika Serikat dan Kanada sebagai
psikolog pendidikan, sementara praktisi di sekolah atau sekolah yang terkait
dengan pengaturan yang diidentifikasi sebagai psikolog sekolah. Namun perbedaan ini tidak dibuat di
Inggris, di mana istilah generik untuk praktisi adalah "psikolog
pendidikan".
Dalam
proses dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan peranan psikologi menjadi
sangat mutlak. Analisis psikologi akan membantu para pendidik memahami struktur
psikologis anak didik dan kegiatan-kegiatannya, sehingga kita dapat
melaksanakan kegiatan-kegiatan
pendidikan secara efektif.
Oleh
karena itu kami membuat makalah ini untuk memberikan pandangan tentang landasan
psikologi pendidikan dan mencegah terjadinya beban psikologi pada peserta didik serta dapat melakukan pendekatan secara baik antara
pendidik dan peserta didik.
1.2
Rumusan
masalah
Dari latar belakan diatas dapat dirumuskan beberapa
masalah yang kami bahas. Diantaranya adalah:
1.
Bagaimana
pendapat para ahli tentang teori
psikologi?
2.
Apakah
arti psikologi pendidikan?
3.
Apa
saja bentuk psikologi dalam pendidikan?
4.
Apa
kontribusi landasan psikologi pendidikan dalam proses belajar?
1.3
Tujuan
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memahami
tentang landasan psilokogi pendidikan. Tujuan khususnya antara lain:
1.
Memahami
pendapat para ahli tentang teori psikologi.
2.
Mengetahui
pengertian psikologi pendidikan.
3.
Mengetahui
bentuk – bentuk psikologi pendidikan.
4.
Mengetahui
macam – macam kontribusi landasan psikologi pendidikandalam proses belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Landasan Psikologis
Pendidikan
Landasan
psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang
membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejalagejala
yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia
perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan
tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan
dengan kecerdasan, berpikit, dan belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).
Menurut
pandangan ilmu psikologi bahwa pendidikan adalah:1) proses yang dilakukan
seseorang untuk mengembangkan kemampuan, sikap, dan perilaku yang bernilai
positif dalam masyarakat dimana orang itu hidup;2) menyiapkan individu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya; 3) proses pertumbuhan kekuatan,
kemampuan dan minat (Mantja, 2001).
Sedangkan
yang menjadi perhatian utama dari psikologi pendidikan menurut Cristoper (dalam
Mantja 2001) adalah: 1) sifat dan karakteristik peserta didik; 2) sifat proses
pembelajaran; 3) cara di mana proses dapat difasilitasi oleh guru, dan; 4)
pembentukan asas ilmiah untuk prosedur yang digunakan dalam pendidikan formal.
2.2
Teori Psikologi Menurut Para Ahli
2.2.1 Aliran psikologi tingkah laku
A. Teori Pengaitan
dari Edward L. Thorndike
Berdasarkan hasil percobaannnya di
Laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan, ia mengemukakan suatu teori
belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan” (connectionism). Teori tersebut
menyatakan belajar pada hewan dan manusia pada dasrnya berlangsung menurut
prinsip yang sam taitu, belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan
(asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon
(R) yang diberikan atas stimulus tersebut. (Orton, 1991:39;
Resnick dan Ford, 1981:13).
Selanjutnya Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick dan Ford, 1981:13;
Hudojo, 1991:15-16) mengemukakan bahwa, terjadinya asosiasi antara stimulus dan
respon ini mengikuti hkum-hukum berikut. (1) Hukum Kesiapan (law of readiness),
(2) Hukum Latihan (law of exercise), (3) hukum Akibat (law of effect).
B. Teori Penguatan B.F. Skinner
Skinner mengembangkan tori belajarnya juga dari hasil percobaan dengan
menggunakan hewan. Dari percobaannya, Skinner menyimpulkan bahwa kita dapat
membentuk tingkah laku manusia melalui pengaturan kondisi lingkungan (operant
conditioning) dan penguatan.
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan
penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila penyajiannya
mengiringi suatu tingkah laku siswa yang cenderung dapat meningkatkan
terjadinya pengulangan tingkah laku itu, dalam hal ini berarti tingkah laku
tersebut diperkuat. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang
dihilangkan/dihapuskan Karena cenderung menguatkan tingkah laku.
C. Teori Hirarki Belajar dari Robert M. Gagne
Menurut Orton (1990:39), Gagne merupakan tokoh Behaviorism gaya baru
(modern neobehaviourist). Dalam mengembangkan teorinya, Gagne memperhatikan
objek-objek dalam mempelajari matematika yang terdiri dari objek langsung dan
tidak langsung. Objek langsung adalah: fakta, keterampilan, konsep dan prinsip,
sedangkan objek tak langsung adalah: transfer belajar, kemampuan menyelidiki,
kemampuan memecahkan masalah, disiplin diri, dan bersikap positif terhadap
matematika.
Gagne berpandangan bahwa belajar
merupakan perubahan tingkah laku yang kegiatan belajarnya mengikuti suatu
hirarki kemampuan yang dapat diobservasi dan diukur. Oleh karena itu teori
belajar yang dikemukakan oleh Gagne dikenal dengan “ teori hirarki belajar”
Gagne membagi belajar dalam delapan tipe secara berurtan, yaitu: belajar
sinyal (isyarat), stimulus-respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal,
memperbedakan, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah.Gagne berpendapat
bahwa proses belajar pada setiap tipe belajar tersebut terjadi dalam empat
tahap secara berurutan yaitu tahap: pemahaman, penguasaan, ingatan, dan
pengungkapan kembali.
Untuk menerapkan teori hirarki belajar Gagne ini pada pembelajaran
matematika perlu diterjemahkan secara operasional yaitu: (1) untuk mengajarkan
suatu topic matematika guru perlu: (a) memperhatikan kemampuan prasyarat yang
diperlukan untuk mempelajari topic tersebut, (b) menyusun dan mendaftar
langkah-langkah kegiatan belajar serta membedakan karakteristik belajar yang
tersusun secara hirarkis yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik
sehingga guru dapat mengamati dan mengukurnya. (2) guru dapat memilih
tipe belajar tertentu yang dianggap sesuai untuk belajar topic matematika yang
akan diajarkan.
Perkembangan kemampuan belajar
menurut Gagne (McNeil,1977)
- Multideskriminasi,
yaitu belajar membedakan stimuli yang mirip, misalnya huruf b dan d.
- Belajar
konsep, yaitu belajar membuat respon sederhana, seperti huruf hidup, hurup
mati, dsb.
3. Belajar
Prinsip, yaitu mempelajari prinsip-prinsip atau aturan-aturan konsep.
2. Aliran
psikologi kognitif
A Teori Perkembangan Intelektual Jean Piaget
Piaget
adalah ahli psikologi Swiss yang latar belakang pendidikan formalnya adalah
falsafah dan biologi. Piaget mengemukakan Teori Perkembangan
Intelektual (kognitif)
Menurut Piaget
ada empat tingkat perkembangan Intelektual. (Mulyani 1988, Nana Syaodih, 1988,
dan Callahan, 1983):
1. Periode
Sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun
2. Periode
Praoperasional pada umur 2 – 7 tahun
3. Periode operasi konkret pada umur 7 –
11 tahun
4. Periode operasi formal pada umur 11 – 15
tahun
B. Teori
Belajar dari Jerome Bruner
Perkembangan mental anak menurut Bruner (Toeti Soekamto, 1994) ada
tiga tahap, yaitu:
1.Tahap Enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas
dalam upaya memahami lingkungan
2. Tahap Ikonik, anak memahami dunia
melalui gambaran-gambaran dan visualisasi verbal.
3.Tahap simbolik,anak telah memilikigagasan abstrak yang
banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika.
Berdasarkan
hasil observasi dan eksperimennya mengenai kegiatan belajar-mengajar matematika
Bruner merumuskan empat teori umum tentang belajar matematika yaitu:
1. Teorema penyusunan (contruction
theorem)
2. Teorema pelambangan (notation
theorem)
3. Teorema pembedaan dan keaneka
ragaman ( contrast and variation theorem)
4. Teorema pengaitan (connectivity
theorem)
Teori-teori
Psikologi telah banyak membantu membentuk Landasan Pendidikan didalamnya anak
dapat belajar dengan efektif. Landasan
psikologis sangat penting karena manusia memiliki karakter yang berbeda-beda,
sehinggap membutuhkan teori yang berbeda-beda untuk diaplikasikan dalam
kasus-kasus pendidikan. Mengingat
dekatnya hubungan teori-teori tersebut dengan pendidikan, maka guru-guru modern
patut mempelajarinya dan mengaplikasikannya dalam kelas.
Untuk memahami karakteristik peserta didik dalam masa
kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua, psikologi pendidikan mengembangkan
dan menerapkan teori-teori pembangunan manusia. Sering
digambarkan sebagai tahap di mana orang lulus saat jatuh tempo, teori-teori
perkembangan menggambarkan perubahan kemampuan mental (kognisi), peran sosial,
penalaran moral, dan keyakinan tentang hakikat pengetahuan.
Menurut
Pidarta Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia.
Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat
dipengaruhi olaeh alam
sekitar. Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Pendidikan
selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis
pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas
berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala
yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan
tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia
perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
2.3 Bentuk Psikologis Pendidikan
A. Psikologis
Perkembangan
Ada tiga teori atau
pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah
(Nana Syaodih, 1989).
1.
Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan
melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus
yang berbeda dengan ciri-ciri pada tahap-tahap yang
2.
Pendekatan diferensial. Pendekatan ini dipandang
individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas
dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok–kelompok. Anak-anak yang memiliki
kesamaan dijadikan satu kelompok. Maka terjadilah kelompok berdasarkan jenis
kelamin, kemampuan intelek, bakat, ras, status sosial ekonomi, dan sebagainya.
3.
Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat
karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan
individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual.
Dari
ketiga pendekatan ini, yang paling dilaksanakan adalah pendekatan pentahapan.
Pendekatan pentahapan ada 2 macam yaitu bersifat menyeluruh dan yang bersifat
khusus. Yang menyeluruh akan mencakup segala aspek perkembangan sebagai faktor
yang diperhitungkan dalam menyusun tahap-tahap perkembangan, sedangkan yang
bersifat khusus hanya mempertimbang faktor tertentu saja sebagai dasar menyusun
tahap-tahap perkembangan anak, misalnya pentahapan Piaget, Koglberg, dan Erikson.
Psikologi
perkembangan menurut Rouseau membagi masa perkembangan anak atas empat tahap
yaitu :
1)Masa
bayi dari 0 – 2 tahun sebagian besar merupakan perkembangan fisik.
2)Masa
anak dari 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti hidup manusia primitif.
3)Masa
pubertas dari 12 – 15 tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan
untuk berpetualang.
4)Masa
adolesen dari 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati,
dan moral. Remaja ini sudah mulai belajar berbudaya.
B. Psikologi
Belajar
Menurut
Pidarta belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil
pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa
melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada
orang lain.
Secara
psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang
dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara
sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan”. Definisi ini menyiratkan dua
makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan
tertentu yaitu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku Kedua, perubahan
tingkah laku yang terjadi harus secara sadar.
Dari
pengertian belajar di atas, maka kegiatan dan usaha untuk mencapai
perubahan tingkah laku itu dipandang sebagai Proses belajar, sedangkan
perubahan tingkah laku itu sendiri dipandang sebagai Hasil
belajar. Hal ini berarti, belajar pada hakikatnya menyangkut dua hal
yaitu proses belajar dan hasil belajar.
Para
ahli psikologi cenderung untuk menggunakan pola-pola tingkah laku manusia
sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Prinsip-prinsip
belajar ini selanjutnya lazim disebut dengan Teori Belajar.
1.
Teori belajar klasik masih tetap dapat dimanfaatkan, antara
lain untuk menghapal perkalian dan melatih soal-soal (Disiplin Mental). Teori
Naturalis bisa dipakai dalam pendidikan luar sekolah terutama pendidikan seumur
hidup.
2.
Teori belajar behaviorisme bermanfaat dalam mengembangkan
perilaku-perilaku nyata, seperti rajin, mendapat skor tinggi, tidak berkelahi
dan sebagainya.
3.
Teori-teori belajar kognisi berguna dalam mempelajari
materi-materi yang rumit yang membutuhkan pemahaman, untuk memecahkan masalah
dan untuk mengembangkan ide (Pidarta, 2007:218).
C. Psikologi
Sosial
Menurut
Hollander (1981) psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi
seseorang di masyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan
ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar
individu (dikutip Pidarta, 2007:219).
Pembentukan kesan
pertama terhadap orang lain memilki tiga kunci utama yaitu.
1.
Kepribadian orang itu. Mungkin kita pernah mendengar tentang
orang itu sebelumnya atau cerita-cerita yang mirip dengan orang itu, terutama
tentang kepribadiannya.
2.
Perilaku orang itu. Ketika melihat perilaku orang itu
setelah berhadapan, maka hubungkan dengan cerita-cerita yang pernah didengar.
3.
Latar belakang situasi. Kedua data di atas kemudian
dikaitkan dengan situasi pada waktu itu, maka dari kombinasi ketiga data itu
akan keluarlah kesan pertama tentang orang itu.
Dalam
dunia pendidikan, kesan pertama yang positif yang dibangkitkan pendidik akan
memberikan kemauan dan semangat belajar anak-anak. Motivasi juga merupakan
aspek psikologis sosial, sebab tanpa motivasi tertentu seseorang sulit untuk
bersosialisasi dalam masyarakat. Sehubungan dengan itu, pendidik punya
kewajiban untuk menggali motivasi anak-anak agar muncul, sehingga mereka dengan
senang hati belajar di sekolah.
Menurut
Klinger (dikutip Pidarta, 2007:222) faktor-faktor yang menentukan motivasi
belajar adalah.
1.
Minat dan kebutuhan individu.
2.
Persepsi kesulitan akan tugas-tugas.
3.
Harapan sukses.
D.
Kesiapan Belajar dan Aspek-aspek Individu
Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan
seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan.
Pelengkap peserta didik atau warga belajar
sebagai subjek garis besarnya dapat dibagi menjadi lima kelompok yaitu:
1. Watak,
ialah sifat yang dibawa sejak lahir yang hampir tidak dapat diubah. Misalnya
watak pemarah, pendiam, menyendiri, suka berbicara, dan sebagainya.
2. Kemampuan
umum (IQ), ialah kecerdasan yang bersifat umum. Kemampuan ini dapat dijadikan
ramalan tentang keberhasilan seseorang menyelesaikan suatu pekerjaan atau
tingkat pendidikan yang dijalani.
3. Kemampuan
khusus atau bakat, ialah kemampuan tertentu yang dibawa sejak lahir. Kemampuan
ini pada umumnya memberi arah kepada cita-cita seseorang terutama bila bakatnya
terlayani dalam pendidikan.
4. Kepribadian,
ialah penampilan seseorang secara umum, seperti sikap, besarnya motivasi,
kuatnya kemauan, tabahnya menghadapi rintangan, penghargaannya terhadap orang
lain, kesopanannya, toleransinya dan sebagainya.
5. Latar
belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan terutamam lingkungan keluarga.
Lingkungan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa bayi dan
kanak-kanak.
Aspek-aspek individu yang akan
dikembangkan adalah:
a) Rohani
- Umum: Agama, perasaan, kemauan,
pikiran
- Sosial : Kemasyarakatan, cinta tanah
air
b) Jasmani
- Keterampilan
- Kesehatan
- Keindahan tubuh
E.
Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Perkembangan
adalah proses terjadinya perubahan pada manusia baik secaara fisik maupun
secara mental sejak berada di dalam kandungan sampai manusia tersebut
meninggal. Proses perkembangan pada manusia terjadi dikarenakan manusia
mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu.
Kematangan
adalah perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan adanya pertumbuhan
fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak menjadi dewasa akan
mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya.
Peserta
didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena pertumbuhan maupun
karena perkembangan. Pertumbuhan terutama karena pengaruh faktor internal
sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan, sedangkan perkembangan
terutama karena pengaruh lingkungan. Sebagai contoh pertumbuhan adalah dorongan
untuk berbicara karena kematangan organ bicara pada usia 1—2 tahun, sedangkan
penggunaan bahasa tertentu dalam berbicara tergantung pada lingkungannya
sebagai akibat perkembangan.
Selain
itu, belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman
yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu
(kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi
bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda
akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut
mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses
kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang,
misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki
kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan
dan belajarnya buruk (Tirtarahardja dan S. L. La Sulo, 2005:108—109).
2.4 Kontribusi
Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar
1.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian
psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan
terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar
mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan,
pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in
put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek
perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara
psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian
psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang
dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan,
kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristikindividulainnya.
Kurikulum
pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk
dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject
matter maupun metodepenyampaiannya.
Secara
khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang
dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya
menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan
berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan
seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan
demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis
terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu
dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar
(learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa.
2.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai
teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori
dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism,
operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori
pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari
masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah
memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah
melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran
Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar,
yakni :
1)
Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu
tujuan
2)
Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan
kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3)
Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam
kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4)
Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5)
Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya
pula hasil sambilan.
6)
Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau
melakukan.
7)
Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya
aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan
sebagainya.
8)
Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang
lain.
9)
Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari
harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara
verbalistis.
10)
Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya,
seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11)
Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi
sukses yang menyenangkan.
12)
Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului
oleh pemahaman.
13)
Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat
untuk belajar.
3.
Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek
penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan
pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku
apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan
atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan
sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap
peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik
untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu
lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak
digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude
Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek
kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi
upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada
gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi
pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Keadaan
anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti mengalami
perubahan,karena dibimbing, dan kegiatan bimbingan merupakan usaha atau
kegiatan berinteraksi antara pendidik,anak didik dan lingkungan.
Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis.
Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis.
Dengan
demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara
psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit
dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi
menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian keduanya
menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
C. Implikasi Landasan Psikologis dalam Pendidikan
1. Definisi dan Prinsip Perkembangan
Perkembangan adalah
proses terjadinya perubahan pada manusia baik secara fisik maupun secara mental
sejak berada didalam kandungan sampai manusia tersebut meninggal dunia. Proses
perkembangan pada manusia terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan dan
proses belajar dari waktu ke waktu.
Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan
adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak
dewasa akan mengalami perubahan fisik dan mentalnya.
Sedangkan belajar adalah proses yang berkesinambungan dari sebuah
pengalaman yang akan membuat individu berubah dari tidak tahu menjadi
tahu(kognitif), dari tidak mau menjadi mau(afektif) dan tidak bisa menjadi
bisa(psikomotorik), misalnya seorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan
lebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba
untuk mengendarai sepeda sehingga menjadi bisa.
Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar
pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik
akan memilih kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses
kematangan dan belajarnya buruk
Manusia dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam berbagai aspek
yang ada pada manusia dan aspek aspek tersebut saling berhubungan dan
berkaitan. Aspek aspek dalam perkembangan tersebut diantaranya adalah aspek
fisik, mental, emosional, dan social.
Prinsip prinsip perkembangan tersebut diantaranya adalah sebagai
berikut:
a. Perkembangan
terjadi terus menerus hingga manusi meninggal dunia
b. Kecepatan
perkembangan setiap individu berbeda beda.
c. Semua
aspek perkembangan saling berkaitan dan berhubungan satu sama lainnya.
d. Arah
perkembangan individu dapat diprediksi.
e. terjadi secara bertahap dan tiap tahapan mempunyai
karakteristik tertentu.
2. Pengaruh Hereditas dan Lingkungan Terhadap Perkembangan Individu
a.
Nativisme
Teori natavisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu
dilahirkan didunia dengan membawa faktor-faktor turunan dari orangtuanya dan faktor
faktor yang menjadi penentu perkembangan individu.
b. Empiris
Teori ini adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu yang
terlahir kedunia adalah dalam keadaan bersih sedangkan faktor penentu
perkembangan individu terebut adalah lingkungan dan pengalaman .
c. Konvergensi
Yaitu teori yang berasumsi bahwa perkembangan individu diturunkan oleh
faktor keturunsn dan faktor lingkungan serta pengalaman .
4. Tahapan
dan Tugas Perkembangan Serta Implikasinya Terhadap Perlakuan Pendidik
Asumsi bahwa anak adalah orang
dewasa dalam skala kecil atau telah ditinggalkan orang sejak lama, sebagaimana
kita maklumi bahwa masa anak anak adalah suatu tahap yang berbeda dengan orang
dewasa. Anak menjadi dewasa melalui suatu proses pertumbuahan bertahap mengenai
keadaan fisik, social, emosional, moral, dan mentalnya.
1) Tugas
perkembangan Masa Bayi dan Kanak Kanak kecil(0-6 tahun)
1. Belajar
berjalan
2. Belajar
makan makanan yang padat
3. Belajar
berbicara berkata-kata
4. Belajar
mengontrol pembuangan kotoran tubuh
5. Belajar
tentang perbrdaan krlamin dan kesopanan atau kelakuan yang sesuai dengan jenis
kelaminnya.
6. Mencapai
stabilitas fisiologis
7. Pembentukan
konsep sederhna tentang kenyataan sosisal dan kenyataan fisik
8. Belajar
berhubungan dari secara emosional dengan orang tua , saudara, dan orang lain.
2) Tugas
perkembangan masa kanak kanak(6-12 tahun)
1. Belajar
bermain dengan teman teman lainnya
2. Belajar
keterampilan fisik yang perlu untuk permainan sehari hari
3. Pengembangan
kebebsan pribadi
4. Belajar
memahami peranan-peranan kepriaan dan kewanitaan
5. Pengembangan
sikap sikap terhadap kelompok social dan lembag dll.
3) Tugas
perkembangan masa remaja(12-18)
1. Mencapai
peranan social dan hubungan yang lebih matangsebagai laki-laki/perempuan
2. Memperoleh
jaminan kebebasan ekonomi dengan memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu
pekerjaan
3. Mempersiapkan
diri untuk keluarga
4. Tugas
perkembangan pada masa dewasa(18-….)
4) Masa
dewasa awal
1. Memilih
pasangan hidup dan belajar hidup bersama
2. Memulai
berkeluarga
3. Mulai
menduduki suatu jabatan/pekerjaan
5) Masa
dewasa tengah umur
1. Mencapai
tanggung jawab social dan warga Negara yang dewasa
2. Membantu
anak belasan tahun menjadi dewasa
3. Menyesuaikan
diri kepada orangtua yang semakin tua
6) Tugas perkembangan
usia lanjut
1. Menyesuaikan
diri pada kekuatan dan keksehatan jasmani
2. menyesuaikan
diri pada saat pension dan pendapatan yang semakin berkurang
3. Menyesuaikan
diri terhadap kematian terutama banyak beribadah.
4.
2.5 Implikasi Perkembangan Individu Terhadap Perlakuan
Pendidik.
a. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi perkembangan pesert didik
pada masa kanak kanak kecil
1. Menjaga keselamatan tanpa perlindungan yang
berlebihan
2. Bercakap cakap dan memberikan respon terhadap
perkataan peserta didik
3. Menyelenggarakan disiplin secara lemah lembut
secara konsisten
b. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik
pada masa persekolah
1. memberikan tanggung jawab dan kebebsan kepada
peserta didik secara berangsur dan terus menerus.
2. latihan harus ditekankan pada koordinasi kecepatan,
mengarahkan keseimbangan
3. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
peserta didik
4. menyediakan
benda-benda untuk dieksplorasi
c. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik
pada masa kanak-kanak.
1. menerima kebutuhan akan kebebasan anak dan menambah
tanggung jawab anak
2. mendorong pertemanan dengan menggunakan
proyek-proyek dan perminan kelompok.
3.
membangkitkan rasa ingin tahu.
4. menghadapkan anak pada gagasan-gagasan dan
pandangan pandangan baru
Perlakuan pendidik yang diharpakan bagi perkembangan peserta didik pada
masa remaja awal
1. Memberikan kesempatan berolahraga secara tim dan perorangan
2. menerima makan dewasanya peserta didik
3. memberikan tanggung jawab secara berangsur angsur
4. mendorong kebebasan dan tanggung jawab
e. perlakuan pendidik yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik
pada masa remaja akhir.
1. menghargai pandangan pandangan peserta didik
2. menerima kematangan peserta didik
3. memberikan kesempatan yang luas untuk pendidikan baru
4. menggunakan kerja sam kelompok untuk memecahkan masalah
5. bekreasi bersama dan menegakan berbagai aturan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat
disimpulkan bahwa, landasan
psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang
membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta
gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia
perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan
tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
Bentuk-bentuk landasan psikologi pendidikan mencakup, Psikologis Perkembangan, belajar, sosial. Dalam perkembangannya landasan
psikologis pendidikan memiliki peranan sebagai
perkembangan kurikulum dalam sistem pembelajaran dan penilaian.
3.2 Saran
Saran
yang dapat kami berikan kepada pembaca adalah sebagai berikut:
1. Pendidik
diwajibkan menerapkan nilai-nilai landasan psikologis pendidikan dalam proses
belajar mengajar.
2. Pendidik
lebih memperhatikan landasan psikologi pendidikan yang sesuai dengan peserta
didik.
Dengan begitu maka perkempangan peserta didik diharapkan berkembang secara
optimal dan mengarah ke arah yang ditujukan.
Daftar Pustaka
Sudrajat, A. 2002. Kontribusi
Psikologi Pendidikan, (online), (file:///H:/Kontribusi%C2%A0Psikologi%C2%A0terhadap%C2%A0Pendidikan%20_%20AKHMAD%20SUDRAJAT%20%20TENTANG%20PENDIDIKAN.html)
diakses 15 Oktober 2018.
Lela, AB. 2001. Landasan Psikologi.
(online). (file:///H:/TUGAS%205%20%20BAB%206.%20LANDASAN%20PSIKOLOGI%20%C2%AB%20Lela68%E2%80%B2s%20Blog.html)
diakses 15 Oktober 2018.
Google. (file:///H:/Himpunan%20Pengembang%20Kurikulum%20Indonesia%20%C2%BB%20Blog%20Archive%20%C2%BB%20Pentingnya%20Landasan%20Psikologis%20dalam%20Pengembangan%20Kurikulum%20Tingkat%20Satuan%20Pendidikan.html)
diakses 15 Oktober 20118.

Komentar
Posting Komentar